Kata dan Istilah

· Bahasa Indonesia
Penulis

1. Perbedaan Kata dengan Istilah
Kata ‘kata’ dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia diambil dari bahasa Sansekerta yaitu ‘khata’ yang berarti ‘konversasi’,‘bahasa’, ‘cerita’, atau ‘dongeng’, namun dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia kata ‘kata’ mengalami penyempitan arti semantis menjadi ‘kata’. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1997) memberikan beberapa definisi mengenai kata, antara lain:

Elemen terkecil dalam sebuah bahasa yang diucapkan atau dituliskan dan merupakan realisasi kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa.
konversasi, bahasa.
Morfem atau kombinasi beberapa morfem yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas.
Unit bahasa yang dapat berdiri sendiri dan terdiri dari satu morfem (contoh: kata) atau beberapa morfem gabungan (contoh: perkataan).

Dalam buku Bahasa Indonesia Akademik untuk Perguruan Tinggi dijelaskan bahwa kata didefinisikan sebagai bentuk bahasa yang bebas terkecil, paling tidak harus terdiri atas satu morfem bebas, yang dapat digunakan untuk membangun kalimat. Sementara Istilah adalah kata atau frasa yang dipakai sebagai nama atau lambing dan yang dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang ilmupengetahuan, teknologi, dan seni.
Dari penjelasan di atas, dapat dilihat bahwa istilah bisa juga merupakan sebuah kata. Perbedaan antara kata dengan istilah adalah kata dipakai dalam berbagai bidang kehidupan, sedangkan istilah hanya dipakai dalam bidang kehidupan tertentu. Kata memiliki makna yang cenderung tidak pasti, tergantung dari konteks kata itu digunakan, sementara itu istilah cenderung memiliki makna yang pasti, tidak tergantung dari konteks.
Contoh:
Kata
Bisa ular bisa membuat orang dewasa meninggal dunia.
Kata bisa pada awal kalimat memiliki makna yang berbeda dengan kata bisa berikutnya. Ini membuktikan bahwa makna dari sebuah kata akan berbeda-beda menurut konteks. Kata rapat, dapat berarti hampir tidak berantara; dekat sekali (tidak renggang) (menurut kamusbahasaindonesia.org), namun dapat pula berarti pertemuan (kumpulan) untuk membicarakan sesuatu; sidang; majelis (menurut kamusbahasaindonesia.org).

Istilah
Saya tidak bisa menghidupkan komputer saya karena tidak ada energi listrik yang mengalir di rumah saya.
Kata energi dalam kalimat di atas akan tetap berarti daya atau tenaga yang dapat digunakan untuk melakukan berbagai proses kegiatan (menurut kamusbahasaindonesia.org), walaupun konteks kalimatnya berubah ke dalam bidang kehidupan yang lain.

2. Pemakaian Kata

Jika kita mendengar kata sekufu, mungkin sebagian dari kita akan bertanya-tanya, apa sebenarnya makna kata tersebut? Kebanyakan penulis bahkan yang terkenal pun menggunakan kata-kata di bawah 4.000 kata, dari 71.000 kata yang ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata sekufu hanyalah satu di antara 71.000 kata lainnya yang terdapat dalam kamus yang jarang atau bahkan tidak pernah didengar oleh seseorang dalam percakapan sehari-hari. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemakaian kata-kata tersebut dalam media, dan mungkin saja kata tersebut memiliki sinonim yang lebih popular dari dirinya.

Orang-orang kedokteran mungkin akan jarang sekali menggunakan kata hama, palu, rabat, inflasi dan sebagainya. Mereka akan lebih sering memakai kata obat, operasi, kelenjar, demam, diagnose dan semua istilah bidang kedokteran lainnya. Sementara itu seorang hakim akan terbiasa menggunakan kosakata dan istilah bidang hukum. Maka dari itu, setiap orang memiliki penguasaan istilah dan kata yang berbeda-beda menurut bidang kehidupan orang tersebut.
Ada lima laras bahasa yang dapat digunakan sesuai situasi. Berturut-turut sesuai derajat keformalannya, ragam tersebut dibagi sebagai berikut.

Ragam beku (frozen); digunakan pada situasi hikmat dan sangat sedikit memungkinkan keleluasaan seperti pada kitab suci, putusan pengadilan, dan upacara pernikahan.
Ragam resmi (formal); digunakan dalam komunikasi resmi seperti pada pidato, rapat resmi, dan jurnal ilmiah.
Ragam konsultatif (consultative); digunakan dalam pembicaraan yang terpusat pada transaksi atau pertukaran informasi seperti dalam percakapan di sekolah dan di pasar.
Ragam santai (casual); digunakan dalam suasana tidak resmi dan dapat digunakan oleh orang yang belum tentu saling kenal dengan akrab.
Ragam akrab (intimate). digunakan di antara orang yang memiliki hubungan yang sangat akrab dan intim.

Hal ini menandakan bahwa pemakaian kata itu adalah pemilihan kata (diksi) yang disesuaikan dengan lingkungan pemakaian bahasa tersebut. Sebagai mahasiswa, kita diharapkan dapat menguasai pemakaian kata dalam karangan ilmiah yang berkaitan dengan bahasa Indonesia yang benar dan baik yang menuntut pemakaian kata yang benar dan pemakaian kata yang baik.
3.Kata yang Benar

Dalam bahasa Indonesia dikenal adanya kata dasar dan kata jadian. Kata dasar (kata tunggal) adalah kata yang dihasilkan oleh proses mofgologis derivasi zero, sedangkan kata jadian (bentukan) dihasilkan oleh proses morfologis, seperti afiksasi, reduplikasi, abreviasi, komposisi, dan derivasi balik. Dalam hal ini kaidah-kaidah morfologis diperlukan untuk menghasilkan kata jadian tersebut.
Secara umum, pembentukan kata turunan dengan imbuhan mengikuti aturan penulisan kata yang ada di bagian sebelumnya. Berikut adalah beberapa informasi tambahan untuk melengkapi aturan tersebut.
Jenis imbuhan dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi:
• Imbuhan sederhana; hanya terdiri dari salah satu awalan atau akhiran.
i) Awalan: me-, ber-, di-, ter-, ke-, pe-, per-, dan se-
ii) Akhiran: -kan, -an, -i, -lah, dan -nya
• Imbuhan gabungan; gabungan dari lebih dari satu awalan atau akhiran.

ber-an dan ber-i
di-kan dan di-i
diper-kan dan diper-i
ke-an dan ke-i
me-kan dan me-i
memper-kan dan memper-i
pe-an dan pe-i
per-an dan per-i
se-nya
ter-kan dan ter-i

Imbuhan spesifik; digunakan untuk kata-kata tertentu (serapan asing).
Akhiran: -man, -wan, -wati, dan -ita. Sisipan: -in-,-em-, -el-, dan -er-.
Kaidah pembentukan dengan awalan me- memiliki aturan sebagai berikut:

tetap, jika huruf pertama kata dasar adalah l, m, n, q, r, atau w. Contoh: me- + luluh → meluluh, me- + makan → memakan.
me- → mem-, jika huruf pertama kata dasar adalah b, f, p , atau v. Contoh: me- + baca → membaca, me- + pukul → memukul , me- + vonis → memvonis, me- + fasilitas + i → memfasilitasi.
me- → men-, jika huruf pertama kata dasar adalah c, d, j, atau t . Contoh: me- + datang → mendatang, me- + tiup → meniup .
me- → meng-, jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal, k , g, h. Contoh: me- + kikis → mengikis , me- + gotong → menggotong, me- + hias → menghias.
me- → menge-, jika kata dasar hanya satu suku kata. Contoh: me- + bom → mengebom, me- + tik → mengetik, me- + klik → mengeklik.
me- → meny-, jika huruf pertama adalah s . Contoh: me- + sapu → menyapu.
Huruf p, l, t, k, s, dan u, memiliki sifat-sifat khusus:
Dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf vokal. Contoh: me- + tipu → menipu, me- + sapu → menyapu, me- + kira → mengira.
Tidak dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf konsonan. Contoh: me- + klarifikasi → mengklarifikasi.
Tidak dilebur jika kata dasar merupakan kata asing yang belum diserap secara sempurna. Contoh: me- + konversi → mengkonversi.

Ada beberapa aturan khusus pembentukan kata turunan, yaitu:

ber- + kerja → bekerja (huruf r dihilangkan)
ber- + ajar → belajar (huruf r digantikan l)
pe + perkosa → pemerkosa (huruf p luluh menjadi m)
pe + perhati → pemerhati (huruf p luluh menjadi m)

Kata tidak benar (rancu) Kata benar (takrancu)
pengrusakan perusakan
penglepasan pelepasan
pengrajin perajin
merubah mengubah
pendarahan perdarahan
kuatir khawatir
isteri istri

4. Kata yang Baik

Kata yang baik berkaitan dengan ketepatan, kelayakan, kecermatan, dan kecergasan pilihan kata. Dalam hal ini kita akan membahas tentang kata yang baik dalam tulisan ilmiah.
1) Kelayakan Pilihan Kata

Layak berarti wajar, pantas, atau patut (Tim Penyusun Kamus 1993:571). Syarat kelayakan berarti pemakaian kata dengan memperhiungkan kepantasan atau kepatutan kata tersebut digunakan menurut daerah, waktu, dan gaya penggunaannya. Misalnya kata butuh di daerah tertentu menjadi tidak layak digunakan karena dapat menimbulkan kesan kurang sopan. Kata bekas karena telah mengalami peyorasi tidak pantas digunakan untuk presiden, pejabat, atau gubernur. Dalam konteks tersebut, maka kata bekas harus diganti dengan kata mantan , karena kata bekas hanya digunakan untuk hal yang bermakna negative seperti bekas pencuri, bekas pemabuk, bekas pelacur dsb.
Dalam karangan ilmiah yang formal hendaknya juga dibedakan penggunaan kata ilmiah dan kata ilmiah populer. Kata ilmiah dipakai untuk pengungkapan konsep-konsep ilmiah sedangkan kata-kata popular dipakai untuk pengungkapan konsep-konsep/ide-ide populer.
Kata Ilmiah Kata Populer
Passiva Kewajiban
Piutang Pinjaman
Budget Anggaran
Opini Pendapat
Manajeman Pengaturan

Dalam karangan ilmiah, kata-kata yang tergolong jargon, slang atau kata percakapan hendaknya dihindari pemakaiannya.
Kata standar Kata nonstandard
dokter dok
habis abis
sudah udah

2) Ketepatan Pilihan Kata

Tepat berarti jitu, betul, cocok, mengena (kamusbahasaindonesia.org). Ketepatan pilihan kata dalam hal ini adalah pemakaian kata-kata yang memiliki arti yang mirip dan berhubungan. Seperti kata melirik, memandang , melihat, menonton menatap , dan menyaksikan memiliki hubungan makna yang dekat. Kata tersebut harus digunakan dengan tepat sesuai dengan nuansa makna kata itu masing-masing. Untuk itu agar dapat menggunakan kata dengan tepat, perlu diperhatikan pemakaian diksi yang memperhatikan konsep hubungan makna kata-kata, yaitu hubungan sinonim, antonym, polisemi, homonym, dan hiponim , serta hubungan makna denotasi-konotasi, konkret-abstrak, umum-khusus, idiom dan majas.
Umum Khusus
kendaraan mobil, motor, kereta api,
makanan nasi, roti, kue
Kata Konotatif Kata Denotatif
diamankan ditahan
perawan gadis
Kata Konkret Kata Abstrak
Uang Dana
Ember Wadah

3) Kecermatan Pilihan Kata

Cermat berarti saksama, teliti, penuh minat (perhatian) (kamusbahasaindonesia.org). Kecermatan pilihan kata adalah mengenai efektivitas dalam pengungkapan sebuah pikiran dengan menggunakan kata-kata yang efektif. Biasanya, penggunaan kata bersinonim secara bersamaan menyebabkan pemakaian kata yang tidak hemat karena kata bersinonim memiliki makna yang hamper sama. Misalnya …agar supaya…, …adalah merupakan…, …demi untuk…, atau …hanya…..saja.
Namun pemakaian kata majemuk tidak termasuk dalam ekonomi bahasa karena kata majemuk merupakan penggabungan kata atau lebih dan memunculkan arti baru. Misalnya hancur lebur, gelap gulita, hitam pekat, atau gelap gulita tidak disalahkan pemakaiannya.
Berikut ini adalah beberapa contoh lain tentang kolokasi (asosiasi tetap antara kata dan kata lain dl lingkungan yg sama – kamusbahasaindonesia.org) dalam bahasa Indonesia.
Kolokasi Keliru Kolokasi Tepat
mendapat untung mendapat keuntungan
merasa kegembiraan merasa gembira
mengatakan tentang (hal itu) mengatakan (hal itu)
lebih … dari lebih… daripada
setuju terhadap setuju dengan
banyak orang-orang banyak orang

4) Kecergasan Pilihan Kata

Kecergasan berarti ketangkasan ata kegesitan.Penggunakan kata secara cergas berarti menggunakan kata secara berarti menggunakan kata secara cekatan gesit dan tangkas. Dalam hal ini, kata-kata yang digunakan harus segar dan menghindari kata-kata using, pengulangan kata yang berlebihan sehingga karangan ilmiah yang dihasilkan tidak kaku karena monoton. Penulis diharapkan memiliki cakrawala yang luas dalam berbahasa agar dapat menghasilkan karangan ilmiah yang bagus. Untuk itu sangat dianjurkan untuk membaca kamus bahasa Indonesia.
Berikut ini adalah beberapa contoh kata asing dalam bahasa Indonesia.
Kata asing Kata Indonesia
workshop lokakarya, sanggar kerja
input masukan
output keluaran
image citra
optional mana suka
brain storming curah gagas/curah pendapat

Kata Serapan Kata Sinonim
relevan gayut
kontradiktif bertentangan
generalisasi parampatan
logika pernalaran

5. Pemakaian Istilah

Karya ilmiah yang baik, selain harus didukung oleh pemakaian kata yang benar dan baik, juga harus didukung olehpemakaian istilah yang tepat. Istilah yang digunakan dalam sebuah karya ilmiah akan mencerminkan bidang ilmu yang dibahas didalamnya. Untuk itu, istilah tersebut di samping memiliki sifat internasional juga memiliki sifat nasional. Istilah internasional maksudnya bahwa makna istilah itu dikenal secara umum dalam bidang ilmu yang bersangkutan, sedangkan sifat nasional artinya istilah itu memiliki ciri-ciri linguistik bahasa yang bersangkutan.
Istilah umum dan Istilah khusus
Istilah umum adalah istilah yang berasal dari bidang tertentu, yang karena dipakai secara luas, menjadi unsur kosakata umum. Misalnya: anggaran belanja, penilaian, daya, radio, nikah, takwa
Istilah khusus adalah istilah yang maknanya terbatas pada bidang tertentu saja. Misalnya: apendektomi, kurtosis, bipatride, pleistosen.
Kriteria proses pembentukan istilah:
• Istilah Bahasa Indonesia
Kosakata bahasa Indonesia dapat diambil sebagai istilah jika memenuhi satu syarat atau lebih berikut ini
1) Kata yang paling tepat, misalnya bea – cukai – pajak.
2) Kata yang paling singkat, misalnya perlindungan politik – suaka politik.
3) Kata yang bernilai rasa baik, misalnya perempuan – wanita
4) Kata umum diberi makna baru, misalnya peka – peka cahaya

1) Bahasa Serumpun/Daerah
Pemasukan istilah dari bahasa serumpun.daerah dapat dibenarkan jika salah satu syarat berikut ini terpenuhi.
1) Lebih cocok karena konotasinya, misalnya tuntas, anjangsana, jamban.
2) Lebih singkat jika dibandingkan dengan terjemahan Indonesianya, misalnya mawas diri, luwes, sandang pangan.

2) Bahasa Asing
Pemasukan istilah bahasa asing dapat dipertimbangkan jika salah satu syarat atau lebih yang berikut ini dapat dipenuhi.
1) Lebih cocok karena konotasinya, misalnya
Kritik Kecaman
Professional Bayaran
Amatir Tanpa bayaran

2) Lebih singkat daripada terjemahannya, misalnya studi, diplomasi, dokumen.
3) Karena keinternasionalannya (intertranslatability) akan memudahkan pengalihan antarbahasa mengingat keperluan masa depan, misalnya inflasi, bursa, satelit.
4) Istilah asing yang dipilih dapat mempermudah kesepakatan jika istilah Indonesianya terlalu banyak sinonimnya, misalnya klorofil, komunikasi, valuta.
Asas pungutan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia melalui empat macam yaitu:
1) Adopsi: pungutan dalam bentuk utuh, misalnya radio, mode, orator.
2) Adaptasi: pungutan dengan penyesuaian kaidah (ejaan) denga bahasa Indonesia, misalnya energy – energi, television – televisi, construction – konstruksi.
3) Padan kata: mencari padanan kata asing tersebut di dalam bahasa Indonesia/bahasa serumpun, misalnya medical – pengobatan, network – jaringan, dentist – dokter gigi.
4) Campuran; dipakai asas campuran (misalnya adaptasi dan padan kata ) dalam membentuk istilah bahasa Indonesia terutama istilah yang berupa gabungan kata, misalnya electric energy – energi listrik, bound form –bentuk terikat, clearance volume –volume ruang bebas.

6. Penutup
Pemakaian kata dan istilah dalam karya ilmiah harsus memperhatikan kebenaran dan kebaikannya. Pemakaian kata dan pemakaian istilah yang dibentuk harus berdasarkan aturan pembentukan kata dan istilah bahasa Indonesia. Untuk dapat menghasilkan karya tulis yang bagus, maka penulis diharapkan banyak membaca tulisan yang dihasilkan oleh penulis-penulis yang baik. Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah harus digunakan sebagai pedoman dalam penulisan karya ilmiah.

7. Daftar Pustaka
• Bahasa Indonesia Akademik untuk Perguruan Tinggi ISBN : 978-602-8566-84-1
• Pedoman Umum Pembentukan Istilah Edisi Ketiga Cetakan Keempat Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasuonal 2007
• kamusbahasaindonesia.org (data berasal dari Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: